Sejarah Perkembangan Aswaja Lengkap - Master SEO Indonesia

Master, Pakar Dan Ahli SEO Indonesia

Lapax Theme

Breaking

Bikin Web Dengan Sangat Mudah

hosting terbaik Hosting Unlimited Indonesia

Post Top Ad

hosting indonesia

Thursday, 31 August 2017

Sejarah Perkembangan Aswaja Lengkap


Sejarah Perkembangan Aswaja

Sejarah Perkembangan Aswaja
KH. HASYIM ASY'ARY


            Berdasarkan telaah sejarah, terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan pada tahun 35 Hijriyah, diikuti dengan pengangkatan Ali bin Abi Thalib telah menimbulkan pro kontra dan protes keras dari dua golongan. pertama, dari Mu'awiyah bin abi Abi Sofyan sebagai gubernur Damaskus dan Kedua, protes yang dilancarkan oleh ‘Aisyah Thalhah dan Zubair.mereka menuduh Ali adalah orang yang paling bertanggung jawab atas terbunuhnya Utsman bin Affan. Dua kelompok ini kemudian pecah menjadi perang terbuka. Yakni perang siffin dan disusul kemudian dengan pecahnya perang Jamal.


            Dalam perang Siffin pasukan Mu’awiyyah mengalami krisis politik dan nyaris kalah melawan kubu Ali bin Abi Thalib. Pada saat itu muncullah siasat politik dari kubu Mu’awiyyah dengan mengajukan usul perundingan kepada pihak Ali agar peperangan segera di akhiri. Dari pihak Mu’awiyyah di wakili oeh politikus ulung Amru bin Ash, sedangkan dari pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al-‘Asy’ari. Hasil perundingan di menangkan oleh kubu Mu’awiyyah. Akibat perundingan ini kubu Ali pecah menjadi tiga kelompok ada yang bersih keras untuk melanjutkan peperangan, ada yang menerima perundingan yang diajukan Muawiyyah. Ada juga yang kemudian keluar dari barisan jamaah Ali. Inilah yang disebut dengan kaum khawarij.


            Dari peristiwa tersebut muncul beberapa sekte keagamaan yang pada awalnya lebih di dominasi dengan persoalan politik. Dan menurut ahli sejarah mulai saat itu muncul perdebatan seputar masalah apakah ar-ra’yu (akal) boleh dijadikan dasar untuk menetapkan hukum setelah al-Qur’an dan al-Hadits. Atas perdebatan tersebut timnul dua arus pemikiran dikalangan kaum mujtahidin.

            Pertama, ahl-Hadits, yakni mereka yang hanya berpegang kepada hadits setelah al-Qur’an. Kedua, ahl al-ra’yi, yakni golongan yang menggunakan pendekatan kaum melalui pemikiran, disamping tetap berpegang pada al-Qur’an dan al-Hadits. Inilah yang kemudian memunculkan Istilah Ijma’ dan Qiyas. Terlepas dari aspek politik yang menjadi pemicu lahirnya Aswaja. AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH sering dikonotasikan dengan teologi (kalam) al-Asy’ari (w.235 H) dan al-Maturidi (w.333.H) sedangkan teologi seperti itu Mu’tazilah dan lainnya dipandang sebagai berada di luar paham ASWAJA.


            Adapun i’tikad  (keyakinan/keperayaan) Ahlussunnah Wal Jama’ah secara ringkas dapat diterangkan berikut ini:

1.   Beriman terhadap rukun iman yang enam. Dan percaya bahwa Allah mempunyai nama sebanyak 99 atau yang disebut dengan asma’ul husna atau asma’ al-hidayat.
2.   Meyakini aqa’id 50 (lima puluh), artinya percaya bahwa Allah memiliki sifat wajib dan mustahil serta sifat jai, sifat wajib dan mustahil serta mumkinnya nabi.
3.  Allah beserta nama dan sifat-Nya seluruhnya adalahh qodim, karena keduanya berdiri diatas zat yang qadim, tidak berpermulaan.
4.    Al-Qur’an adalah kalam Allah yang qadim, tidak hadits, baru ataupun makhluk.
5.   Semua rizki manusia sudah ditetapkan pada zaman azaly,tidak bertambah dan tidak berkurang, tetapi manusia diperintah supaya berusaha dan ikhtiar, tidak boleh menunggu saja.
6.    Ajal manusia sudah ditetapkan, tidak maju ataupun mundur walaupun sedikit.
7.    Anak-anak kafir yang mati beum baligh, tetap masuk surga.
8.  Pahala sedekah, wakaf dan pahala bacaan do’a, tahlil, shalawat, Qur’an, boleh dihadiahkan kepada orang yang telah mati dan sampai kepada mereka, kalau dimintakan kepada Allah untuk menyampaikannya.
9.   Ziarah kubur, khusunya kubur kedua orang tua, ulama, para wali dan orang-orang mati syahid, apalagi makam Nabi Muhammad SAW, serta para sahabatnya adalah sunnah hukumnya, mendapat pahala apabila dikerjakan.
10. Berdo’a kepada Allah secara langsung, atau berdo’a kepada Allah dengan washilah (bertawassul) adalah sunnah hukumnya.



Dan masih banyak lagi jika di uraikan semua . 


Sejarah Perkembangan Aswaja
LOGO NU
Terimakasih telah berkunjung ke postingan sederhana ini. tunggu update'an selanjutnya dari share information.


Post Bottom Ad

Hosting Unlimited Indonesia