NU di Tengah Aliran Liberalisme dan Fundamentalis - Master SEO Indonesia

Master, Pakar Dan Ahli SEO Indonesia

Lapax Theme

Breaking

Bikin Web Dengan Sangat Mudah

hosting terbaik Hosting Unlimited Indonesia

Post Top Ad

hosting indonesia

Saturday, 30 September 2017

NU di Tengah Aliran Liberalisme dan Fundamentalis

NU di Tengah Aliran Liberalisme

 

NU di Tengah Aliran Liberalisme
Ulama NU

            Waca keislaman saat ini berjalan sangat massif. Ada banyak paying terminologis, liberal, emansipatoris, meoderat, post tradisionalisme, dan lain-lain. Masing-masing saling mengklaim yang terbaik. Bagi kelompok fundamentalis, seruan kembali dan berperang teguh kepada tradisi dan orisinalitas merupakan bagian dari mekanisme kebangkitan untuk maju karena dengan tradisi itulah masa kini dan masa lalu yang agak dekat dapat di kritik. Bagi mereka, Islam yang dicontohkan oleh salaf al-shalih merupakan bentuk keberagaman yang paling benar dan ideal. Karena itu, keunikan ekspresi keberislaman masyarakat Indonesia di cerca sebagai “Kejahiliyahan Modern” yang jauh dari Islam yang benar, otentik, asli. Otentisitas (ashalah) Islam hilang ketika ia telah dicampuri oleh unsur luar.


            Islam Indonesia kehilangan nilai keasliannya semenjak ia mengakomodasi dan berkulturasi dengan budaya dan tuntutan lokal. Masuknya warna budaya lokal inilah yang dipandang melahirkan bid’ah atau khufarat. (Tashwirul Afkar, edisi No. 14 Tahun 2003,hlm. 11). Mereka mungkin heran, mengapa bangsa Indonesia masih terbiasa dengan acara tujuh hari, seratus, setahun, dan seribu hari orang meninggal, atau sedekah (dalam Bahasa jawa biasa disebut “wiwit”) sebelum panen bagi kalangan petani. Kaum fundamenta menilai semua itu tidak ada dasarnya dalam tradisi Islam masa Nabu dan para sahabat.


            KH. HasyimMuzadi, ketua umum PBNU dalam suatu acara (17/5/2007) mengatakan, NU sekarang berada dalam kepungan dua ekstrimisme. Pertama, fenomena radikalisme agama yang dibawa kelompok-kelompok Islam yang mengedepankan jalan kekerasan dalam mengekspresikan nilai keagamaannya. Mereka ada yang berasal dari luar negeri Islamiyah’ di Indonesia. Kedua, massifnya kelompok liberal agama yang melakukan dekontruksi dan profanisasi “doktrin” agama yang membawa pada konsep deklarasi dan relavisme kebenaran agama.

           
            Kedua kelompok ini sangat-sangat bahaya. Untuk kelompok pertama, mereka seperti kaum “khawarij” yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, tidak peduli apakah cara itu membahayakan dan menyengsarakan orang lain, lebih esktrim lagi mereka memandangkan non-muslim sebagai orang yang darah, harta, dan harga dirinya “halal”, boleh dibunuh dijarah dan dilecehkan. Paradigma ini menjadi seumber ekstrimisme dan radikalisme, bahkan teorisme.


Segala prilaku ekstrem menurut Yusuf Qordlowi  disebabkan oleh beberapa hal, antara lain, lemahnya pandangan terhadap hakikat agama, dan kecenderungan tekstual dalam memahami nash-nash, sibuk mempertentangkan hal-hal sampingan seraya melupakann problem-problem pokok, pemahaman keliru terhadap beberapa pengertian, dan ekstreem, Yusuf Qordlowi , 1989:51-580). Prilaku yang ekstrem inilah yang melahirkan kelompok fundamentalis. Kelompok ini berpegang teguh kepada tradisi dan orisinalitas.


No comments:

Post a Comment

Dilarang menaruh link aktif, berikan komentar dengan baik dan bijak agar saya tidak segan-segan mengunjungi situs anda, salam blogger INDONESIA

Post Bottom Ad

Hosting Unlimited Indonesia