Peran Penting KH. A. Wahab Chasbullah Pada NU - Master SEO Indonesia

Master, Pakar Dan Ahli SEO Indonesia

Lapax Theme

Breaking

Bikin Web Dengan Sangat Mudah

hosting terbaik Hosting Unlimited Indonesia

Post Top Ad

hosting indonesia

Friday, 22 September 2017

Peran Penting KH. A. Wahab Chasbullah Pada NU

Peran KH. A. Wahab Chasbullah Pada NU

            NU tidak bisa lepas daei sosok Peran KH. Wahab Chasbullah. Dialah penggerak NU, manager NU, dan pengawal perjalanan NU dengan bimbingan gurunya Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ary.

            Menurut buku tokoh-tokoh parlemen yang disusun oleh Press Officer, Kyai Wahab dilahirkan pada bulan Maret 1888 (Sama dengan apa yang disebut dalam buku sejarah hidup KH. A. Wahid Hasyim, penerbitan tahun 1957).

            Sejak kecil KH.Wahab Chasbullah belajar agama pada ayahandanya secara langsung dalam kompleks pesantren. Kemudian mengembara keberbagai pesantren dan terakhir di Mekkah sampai usia 35 tahun. Di antara pondok-pondok yang pernah disinggahinya adalah Pondok Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Cempaka, Pesantren Tawangsari Sepanjang, Pesantren Kyai Chalil Bangkalan Madura, Pesantren Brangkahan Kediri, dan akhirnya ke Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang di bawah asuhan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ary. Selama empat tahun KH. Wahab Chasbullah nyantri di Tebu Ireng, sampai akhirnya dijadikan Lurah Pondok, jabatan tertinggi di pondok.


            Kemudian KH. Wahab Chasbullah melanjutkan belajar di Mekkah selama kurang lebih lima tahun. Di Makkah, KH. Wahab Chasbullah belajar dengan ulama-ulama besar, seperti Syeikh Mahfudh Termas, Kiai Muchtaram Banyumas, Syaikh Achmad Chotib Minangkabau, Syaikh Said Al-Yamani, Syaikh Achmad bin Bakry Syatha, dan lain-lain.

            Dari penjelajahan ini, KH. Wahab Chasbullah menjadi santri yang menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan, dari tafsir, hadits, fiqh, aqaid, tasawuf, nahwu-shorof, ma’ani, manthiq, ‘arudl, dan ilmu muhadhoroh dari cabang diskusi dan retorika.

            KH. Wahab Chasbullah mulai tampak kecerdasannya dan kepiwaiannya dalam berorganisasi dan beretorika ketika mendirikan forum diskusi Tashwirul Afkar di Surabaya, dimana kelompok Islam Tradasionalis pesantren dan modernis berkumpul, berdiskusi tentang persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan umum.


            KH. Wahab Chasbullah sangat loyal kepada NU sampai akhir hayatnya. Sebagai pembuat scenario NU, menjadi Katib ‘Am NU pada periode Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ary dan Rais ‘Am NU pasca wafatnya Kiai Hasyim, KH. Wahab Chasbullah selalu mencurahkan segala pikiran, materi, tenaga, dan waktunya untuk membesarkan NU dari sabang sampai merauke.


            Sampai MuktamarNU ke-25, KH. Wahab Chasbullah tidak pernah udzur, beliau selalu mengikuti dengan seksama, memberikan pengarahan dan pijakan langkah organisasi dalam menatap masa depan dan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terus bermunulan.


            Keteladanan KH. Wahab Chasbullah dan rendah dirinya Bersama para kiai, khususnya Gurunya KH. Hasyim Asy’ary seyoginya menjadi contoh bagi kader-kader NU masa depan. Berjuang dan menghidupi NU, bukan mencari penghidupan di NU.

No comments:

Post a Comment

Dilarang menaruh link aktif, berikan komentar dengan baik dan bijak agar saya tidak segan-segan mengunjungi situs anda, salam blogger INDONESIA

Post Bottom Ad

Hosting Unlimited Indonesia