Aswaja Menurut Nahdlatul Ulama (NU) - Master SEO Indonesia

Master, Pakar Dan Ahli SEO Indonesia

Lapax Theme

Breaking

Bikin Web Dengan Sangat Mudah

hosting terbaik Hosting Unlimited Indonesia

Post Top Ad

hosting indonesia

Wednesday, 13 September 2017

Aswaja Menurut Nahdlatul Ulama (NU)


                Sesuai dengan hasil keputusan Bahtsul Masail Munas Aim Ulama Nahdlatul ‘Ulama di Jakarta, pada tanggal 25-28 Juli 2002, Ahlussunnah Wal-jama’ah dita’rifkan sebagai berikut:


أَهًلً السُّنةِ وَالْجَمَا عَةِ هُوَ مَنِ اتَّبِعَ وَتَمَسَّكَ بِكِتاَبِ اللهِ وَبِمَا عَلَيْهِ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ وِبِمَا عَلَيْهِ السَّلَفُ الصَّالِحُ وَ تَا بِعُوْ هُمْ.


“ Ahlussunnah Wal-jama’ah adalah orang yang memegang teguh al-Qur’an dan mengikuti segala sesuatu yang telah dijalankan oleh Rasulullah Saw, para sahabatnya, serta as-Salaf as-Shalih dan para penerusnya.”


            Ahlussunnah Wal-jama’ah (Aswaja) menurut pandangan Nahdlatul ‘Ulama adalah dasar dan paham keagamaan sebagaimana ditulis oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ary dalam Qanun Asasi NU sebagai berikut:
-          Dalam akidah mengikuti salah satu Imam  Abu Hasan al-Asy’ary dan Imam Abu Mansyur Al-Maturidi.
-          Dalam ubudiyah (praktek ibadah) mengikuti salah satu Imam Madzhab empat; yaitu Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad Asyafi’I dan Ahmad Hambal.
-          Dalam bertasawuf mengikuti salah satu dua Imam: Abu Qosyim al-Junaidi al-Baghdadi dan Abu Hamid Muhammad al-Ghazali.

Sedangkan dalam menghadapi masalah budaya atau problem social yang berkembang di tengah masyarakat Nahdlatul ‘Ulama menggunakan pendekatan sikap sebagai berikut:

1.      Sikap Tawasuth dan I’tidal (moderat, adil dan tidak ekstrim)
2.      Sikap Tasamuh (toleransi, lapang dada dan saling pengertian)
3.      Sikap Tawazun (seimbang dalam berhikmat)
4.      Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Baca : Ciri-ciri Ahlussunnah wal-jama'ah

Dalam mensikapi perkembangan budaya NU tetap mendasar pada kaidah yang menyatakan:

اَلْمُحَافَضَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْاَ خْذُ بِلْجَدِيْدِ الَا صْلَحِ

“mempertahankan tradisi lama yang masih relevan, dan responsive terhadap gagasan baru yang lebih baik dan lebih relevan”.



            Melalui kaidah ini dapat dikatakan, yang tidak boleh adalah hal-hal dari luar yang bertentangan dengan Islam atau berbahaya bagi Islam. Adapun hal-hal yang dapat diterima oleh Islam dan atau bermanfaat bagi Islam dan kehidupan, bukan saja boleh, malah perlu dicari, diambil dan dikembangkan.


            Adapun yang menyangkut politik NU dalam khittahnya menjelasakan bahwa setiap wwarga Nahdlatul ‘Ulama adalah warga negara yang mempunyai hak-hak politik yang dilindungi oleh undang-undang. Didalam hal warga NU menggunakan hak-hak poitiknya harus dilakukan secara tanggung jawab, sehingga dengan demikian dapat ditumbuhkan sikap hidup yang demokratis, konstitusional, taat hokum dan mampu mengembangkan mekanisme musyawarah dan mufakat dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi bersama.



No comments:

Post a Comment

Dilarang menaruh link aktif, berikan komentar dengan baik dan bijak agar saya tidak segan-segan mengunjungi situs anda, salam blogger INDONESIA

Post Bottom Ad

Hosting Unlimited Indonesia