Ciri - Ciri Ahlussunnah Wal-jama’ah - Master SEO Indonesia

Master, Pakar Dan Ahli SEO Indonesia

Lapax Theme

Breaking

Bikin Web Dengan Sangat Mudah

hosting terbaik Hosting Unlimited Indonesia

Post Top Ad

hosting indonesia

Thursday, 7 September 2017

Ciri - Ciri Ahlussunnah Wal-jama’ah


Ciri - Ciri Ahlussunnah Wal-jama’ah aswaja
NU


            Sebagai kenyataan perkembangan Ahlussunnah Wal-jama’ah (Aswaja) terdapat dua versi, secara umum dan khusus. Secara umum keberadaannya sebagai perlawanan terhadap golongan Syiah secara keseluruhan kecuali kelompok Syiah al-Rafidah (Syiah yang tidak mengikuti ajaran Imam Zaid bin Ali). Sedangkan Aswaja secara khusus keberadaannya dihajatkan untuk melawan ahl bid’ah, dana hl al-ahwa’ (kaum yang menurutkan hawa nafsu).


            Menurut Muhammad bin Husain bin Hasan, Sunnah disini diartikan jalan yang lurus dalam agama. Yatu apa yang terjadi pada diri Rasulullah Saw, Khulafaur Rasyidin, baik yang berkaitan dengan I’tikad, perbuatan-perbuatan maupun perkataaan-perkataan  mereka. Sedangkan jamaah adalah perkumpulan yang merupakan kebalikan dari perpecahan. Ahlussunnah Wal-jama’ah ialah sekelompok pengikut Sunnah dengan berpegang teguh pada Sunnah, petunjuk Nabi Saw, mengikuti jejak dan thariqahnya, baik dalam I’tikad perkataan maupun perbuatannya.


            AhlussunnahWal-jama’ah adalah kelompok orang yang mewajibkan dirinya bersepakat dan bersekutu dengan kebenaran serta memiliki komitmen yang sama dalam hal jihad, Sunnah maupun kesetiaan mengikuti langkah nabi dan sahabatnya. Mereka tidak berbuat bid’ah yang tidak baik, menuruti hawa nafsu dan perpecahan.

            Ciri-ciriAhlussunnah Wal-jama’ah dapat dikemukakan menjadi 5 bagian yaitu:

1.      Sangat fanatic terhadap Rasulullah Saw. Mereka senantiasa mengajarkan hadits dan perbuatan Nabi kepada orang lain. Mereka selalu memuliakan dan mengagungkan Nabi. Sebab menurut mereka Nabilah yang mampu membedakan antara yang hak dan yang batil.

2.      Mereka menjadikan Al-Qur’an dan Al-Sunnah sebagai imam, rujukan atas segala persolana agama. Adapaun yang tejadi pada dirinya baik itu berupa pandangan, gerak hati maupun pikiran selalu dikembalikan kepada al-Qur’an dan Sunnah. Mereka bersyukur kepada Allah manakala semua pandangan akalnya terdapat kesesuaian dengan al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebaliknya bila terjadi pertentangan, mereka tetap memenagkan keduanya. Karena mereka yakin bahwa al-Qur’an dan al-Sunnah selalu dalam kebenaran yang hakiki, sedangkan pandangan manusia kadang-kadang benar dan kadang-kadang salah.

3.      Berpegang teguh atas kebenaran Sunnah nabi, tidak kepada ungkapan-ungkapan lain di luar Sunnah. Semua pendapat dan pandangannya dinisbatkan kepada hadits dan Sunnah, berbeda dengan ahli bid’ah yang mendasarkan pendapatnya dengan pendapat orang lain, bahkan terkadang berdasarkan sebuah ungkapan atau makalah saja.

4.      Keberadaan mereka meskipun berbeda negara, zaman dan tempat tinggal, mereka tetap satu dalam tulisan atau hasil karangannya mulai awal sampai akhir, apakah itu berhubungan dengan I’tikad, keyakinan atau yang lain. Tidak terlihat perbedaan  dan perpecahan antara sesame sunni. Mereka selalu mendasarkan pendapatnya kepada ‘ulama salaf al-Shalih berdasarkan firman Allah berikut ini:


اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْأَنَ وَلَوْ كَانَ مَنْ عِنْدِ غَيْرِاللهِ لَوَ جَدُوْ فِيْهِ اِخْتِلَافًا كَثِيْرًا.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. Al-Nisa’ [4]; (82).



5.      Mereka selalu berada di tengah manakala terjadi perselisihan. Atau perpecahan, sebagaimana Islam berada di tengah-tengah di antara berbagai agama. 

baca juga : Penjelasan lengkap asal mula Aswaja

Post Bottom Ad

Hosting Unlimited Indonesia