Corak dan Ajaran Islam di Indonesia - Master SEO Indonesia

Master, Pakar Dan Ahli SEO Indonesia

Lapax Theme

Breaking

Bikin Web Dengan Sangat Mudah

hosting terbaik Hosting Unlimited Indonesia

Post Top Ad

hosting indonesia

Friday, 15 September 2017

Corak dan Ajaran Islam di Indonesia


Corak dan Ajaran Islam di Indonesia
Nahdlatul Ulama


            Para Ulamapenyebar Islam yang pertama kali datang ke Indonesia merupakan para saudagar yang berniaga dan berdagang di daerah-daerah  pesisir nusantara. Sambal berdagang, diam-diam mereka melaksanakan misi suci, berdakwah menyeru dan mengajak masyarakat setempat untuk memeluk agama Islam dengan cara yang bijaksana (bil-hikmah). Misi suci ini dilaksanakan dengan diam-diam dan tanpa paksaan, apalagi dengan cara kekerasan. Mereka menyebarkan Islam di tanah air tidak dengan membawa symbol aliran tertentu dalam Islam, sekalipun pada waktu itu telah muncul faksi (firqoh) dalam dunia Islam akibat pertentangan di bidang politik, namun mereka tidak menjadikannya sebagai suatu yang mutlak. Bagi Mereka Islam lebih penting ketimbang faksi-faksi yang ada di dalamnya.



            Selain itu, dunia Arab sebelum jatuh ketangan Bani Sa’ud, khususnya di Mesir dan Mekkah banyak menganut paham Sunni atau tradisi keagamaan bermazhab, khususnya Madzhab Syafi’i yang berhaluan ahlussunnah wal-jama’ah. Paham Imam madzhab bagi umat Islam nusantara telah mengakar cukup lama dan sangat kuat, Karena terintegrasi dengan budaya masyarakat setempat. Para pemuka Islam yang menyamar sebagai pedagang tersebut secara tidak langsung menyebarkan ajaran Islam versi Syafi’iyah ke Indonesia. Keyakinan ini dijelaskan oleh Solihin Salam (1960:60-68) bahwa corak dan ajaran Islam yang pertama kali berkembang di nusantara banyak dipengaruhi oleh Madzhab Syafi’i yang diajarakan para penyebar Islam pertama. Sejumlah referensi yang memperkuat anggapan ini antara lain dikutip oleh Salam dari pendapat Hamka yang berpendapat bahwa agama Islam dating ke Indonesia bukanlah dating dari  Pasai atau Gujarat, melainkan dating dari Mesir dan Mekkah.


           
            Menurut Hamka ada sebuah alasan yang dapat dikemukakan, pertama, dalam buku catatan perjalanannya, Ibnu Batutah menulis, ia menyaksikan Raja Samudera Pasai bermadzhab Syafi’i. padahal madzhab Syafi’I yang terbesar saat itu, di anut oleh kebanyakan umat Islam di mesir. Sedangkan raja itu senantiasa mengikuti musyawarah ulama-ulama Syafi’i yang ada dalam kerajaannya. Kedua, Al-malik, gelar yang dipakai oleh raja-raja Pasai, adalah gelar raja-raja Mesir. Tiruan gelar sedemikian itu itu tidak terdapat di Iran maupun di India. Sedangkan gelar “Syah” baru dipakai raja-raja malaka pada permualaan abad ke-15 M. dengan demikian berarti pengaruh India dan Persia dating setelah pengaruh Arab, yaitu Mesir dan Mekkah. Ketiga, diterangkan juga oleh Ibnu Batutah, bahwa madzhab yang menduduki tingkat pertama di Mekkah ialah madzhab Syafi’i. Keempat, tidak dipungkiri bahwa orang Indonesia ketika itu sudah ada yang berlayar ke pantai Koromandel, begitu juga ada orang Koromandel yang berlayar ke Indonesia. Tetapi dalam hal agama, orang Indonesia langsung mengambilnya dari Mekkah atau Mesir.  Jika pengaruh India besar maka Madzhab Hanafiah yang paling berpengaruh disini, demikian pula madzhab Syiah yang dating dari Iran dan India tidak begitu berpengaruh. Kelima, sebelum Ibnu Batutah melewat kekerajaan Samudera Pasai sudah ada seseorang ulama besar Indonesia yang mengajarkan Ilmu Tasawuf di And dan Arab, yang bernama Syaikh Abu Mas’ud Abdullah bin Mas’ud Al-jawi. Ini merupakan bukti hubungan dalam hal mencari Ilmu pengetahuan Islam langsung ke tanah Arab, bukan ke India atau Malabar. Keenam, alasan pengaruh India dapat dibuktikan pada batu-batu nisan kuburan tua di Gresik dan Pasai, jika orang Indonesia membeli batu-batu nisan di India kareba bagus bikinannya, bukan berarti mereka mempelajari Islam dari sana.



            Corak keislaman nusantara yang Syafi’iyah ini mengalami proses polarisasi setelah dunia Arab dilanda gerakan dengan slogan pemurnian atau pembaharuan (tajdid)  yang salah satunya di pelopori oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab dengan gerakan Wahabiahnya. Gerakan ini tidak hanya menyangkut aspek ibadah dan akidah, namun juga muamalah.


Baca : Pelopor Gerakan Kembali Kepada ASWAJA

No comments:

Post a Comment

Dilarang menaruh link aktif, berikan komentar dengan baik dan bijak agar saya tidak segan-segan mengunjungi situs anda, salam blogger INDONESIA

Post Bottom Ad

Hosting Unlimited Indonesia