Pelopor Gerakan Kembali Kepada Aswaja - Master SEO Indonesia

Master, Pakar Dan Ahli SEO Indonesia

Lapax Theme

Breaking

Bikin Web Dengan Sangat Mudah

hosting terbaik Hosting Unlimited Indonesia

Post Top Ad

hosting indonesia

Wednesday, 13 September 2017

Pelopor Gerakan Kembali Kepada Aswaja

Pelopor Gerakan Kembali Kepada Aswaja



Pelopor Gerakan Kembali Kepada Aswaja
Aswaja

            Sebagai konsep, Aswaja sudah ada sejak Nabi Saw, namun sebagai gerakan (harakah) dimulai sejak munculnya dua tokoh utama yakni; Pertama, Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi pengikut mazhab Hanafi, dan kedua ialah Abul Hasan Ali al-Asy’ary al-Bishri, pengikut mazhab Syafi’i.


            اَنَّ الْمُرَا دِ بِاَهْلِ السُّنَّةِ حَيْثُ اُطْلِقُوْا اَتَبعُ اَبِى الْحَسَنِ اْلاَشْعَرِى وَاَبِى مَنْصُوْرِ اَلْمَاتُرِيدِى.

“Bahwa yang dimaksud dengan Ahlussunnah Wal-jama’ah, ialah orang-orang yang mengikuti rumusan yang digagas oleh Imam Asy’ary (golongan Asy’ariyah) dan Imam Maturidi (golongan Maturidiyah).


            Abu Hasan al-Asy’ary bernama lengkap Abu Hasan Ali bin Ismail bin Abi Basyar. Ishaq bin Salim bin Ismail, bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Ali Burdah bin Abi Musa al-Asy’ary. Ia lahir di basrah (Irak), ia meninggal di Basrah juga pada tahun 324 H, dalam usia 64 tahun. Ia berguru kepada seorang ulama besar Mu’tazilah sekaligus bapak tirinya bernama Muhammad bin Abdul Wahab al-Jabai (w. 303 H). namun pada akhirnya Abu Hasan tidak merasa nyaman mengikuti pemikiran bapak tirinya ini yang dianggap banyak menyimpang dari ajaran sunni sebenarnya.  Ia keluar dari golongan Mu’tazilah dan bertaubat atas kesalahan nya itu, dan menjadi penentang berkembangnya Syiah waktu itu.


            Abu Hasan Ali al-Asy’ary akhirnya menegakkan paham yang kemudian dikenal dengan nama Ahlussunnah Wal-jama’ah atau disingkat menjadi Aswaja. Yaitu paham sebagaimana diyakini dan dii’tikadkan oleh Nabi besar Muhammad Saw dan para sahabatnya. Dari ajaran yang dikembangkan ini kemudian lahir ulama-ulama besar kaum Sunni lain yang menyebar luaskan paham Ahlussunnah Wal-jama’ah di saentro dunia hingga sekarang.



            Adapun Imam Masyur al-Maturidi yang dianggap sebagai juga pembangun mazhab Ahlussunnah Wal-jama’ah dalam bidang ushuluddin nama lengkapnya ialah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud. Ia lahir di Samarqand di sebuah desa bernama Maturid. Ia juga meninggal di daerah itu pada  tahun 333 H, sepuluh tahun sesudah wafatnya Imam Abu Hasan Ali al-Asy’ary. Imam Abu Manshur ini juga berperan besar dalam rangka mempertahankan dan menyebarkan paham Ahlussunnah Wal-jama’ah, sebagaimana Imam Abu Hasan al-Asy’ary di atas.



            Mengikuti beberapa keterangan terdahulu, lahirnya konsep Ahlussunnah Wal-jama’ah berasal dari pangkuan Rasulullah Saw, namun sebagai gerakan muncul mulai abad ke 3 yang motori oleh dua Imam besar yaitu Abu Hasan Ali al-Asy’ary dan Abu Manshur al-Maturidi.



            Melihat begitu jelas pemahaman Aswaja tersebut, maka bagi warga nahdliyyin tidak perlu ragu untuk meyakini bahwa Ahlussunnah Wal-jama’ah (Aswaja) merupakan komitmen Rasulullah Saw terhadap keberadaan umatnya dalam rangka membawa keselamatan dan kebahaagiaan dunia akhirat.


            Dengan demikian seyoginya sebagai orang Islam, utamanya warga nahdliyyin diharapkan mampu:

1.      Memelihara, menjaga dan melestarikan nilai-nilai Ahlussunnah Wal-jama’ah yang dikembangkan oleh para ulama sebagai pewaris para nabi, baik dibidang keagamaan, ubudiyyah, social kemasyarakatan, maupun budaya dan politik.
2.      Menjadi Ahlussunnah Wal-jama’ah sebagai komitmen hidup dan rujukan dari setiap ucapan, tindakan dan perbuatan sehari-hari.
3.      Menjunjung tinggi dan menjadikan landasan berfikir dalam praktek ibadah, bermuamalah dan berpolitik.
4.      Sebagai pandangan hidup, way of life.
5.      Mengajarkan dan mendakwahkan kepada orang lain dengan cara yang bijaksana sesuai dengan visi dan misi Ahlussunnah Wal-jama’ah menurut gaya dan cara pandang NU.
6.      Menanamkan kepada anak-anak dan generasi muda tentang Ahlussunnah Wal-jama’ah tersebut agar mereka memiliki kepribadian Islami yang santun dan sunni.
7.      Meyakini dengan benar bahwa Ahlussunnah Wal-jama’ah merupakan produk Nabi yang diteruskan oleh para ssahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in dan para ulama.



Inilah beberapa hal penting yang terkait dengan AhlussunnahWal-jama’ah versi NU. Dengan demikian bila terdapat pengertian dan pemahaman Ahlussunnah Wal-jama’ah di luar dari penjelasan di atas, maka sebaiknya kita waspada dan hatu-hati. Karena mungkin cara pandang mereka sangat jauh berbeda dengan paham yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama (NU), yang jelas, menurut KH. MA Sahal Mahfudh, Ahlussunnah Wal-jama’ah adalah tariqah atau jalannya Nabi dan sahabatnya yang dicirikan dengan cara berfikir moderat, tawazun, ta’adul dan tasamuh.

Terimakasih telah membaca dan belajar mengenai Pelopor Gerakan Kembali Kepada Aswaja

No comments:

Post a Comment

Dilarang menaruh link aktif, berikan komentar dengan baik dan bijak agar saya tidak segan-segan mengunjungi situs anda, salam blogger INDONESIA

Post Bottom Ad

Hosting Unlimited Indonesia