Kapan NU Mencapaii Kejayaan?? - Master SEO Indonesia

Master, Pakar Dan Ahli SEO Indonesia

Lapax Theme

Breaking

Bikin Web Dengan Sangat Mudah

hosting terbaik Hosting Unlimited Indonesia

Post Top Ad

hosting indonesia

Thursday, 5 October 2017

Kapan NU Mencapaii Kejayaan??

Kapan NU Mencapai Kejayaan?




Kelahiran NU tidak lepas dari gerakan sebelumnya, tashwirul afkar (pemikiran), nahdlatul wathan (nasionalisme) dan nahdlatut tujjar (pedagang). Artinya, kebangkitan dan kejayaan NU masa depan sangat ditentukan oleh progresivitas dan dinamitas pemikiran, semangat nasionalisme dan patriotism dalam membangun bangsa. Kemandirian dalam bidang ekonomi kerakyatan, dan partisipatis para ulama (cendekiawan) dalam mengembangkan semua aspek kehidupan bangsa dan negara ini. Jadi, kebangkitan NU harus berdiri tegak diatas tiga landasan utama, intelektualisme, nasionalisme, dan entrepreneurship (kewirausahaan). Kebangkitan NU tanpa tiga landasan ini, sangat berat NU menapak masa depan dengan prestasi gemilang.


Menurut Laode Ida, menafsirkan kembali konsep khittah 1926 dikaitkan dengan konteks kekinian, tidak bisa lepas dengan akar-akar paradigm gerakan NU yang telah ditelusuri ke belakang dan kemudian dicoba dijadikan acuan dalam gerakannya selama kurang lebih 15 tahun terakhir. Mereka yang mengacu pada era sebelumnya, paradigm gerakan NU dirumuskan menjadi 3 : Nahdlatul ‘Wathan, gerakan atau kebangkitan kebangsaan nasionalisme; Nahdlatul Tujjar, gerakan atau kebangkitan ekonomi yang ditunjukkan dengan usaha-usaha ekonomi rakyat berbasis pedesaan; dan Tashwirul Afkar, gerakan atau kebangkitan pemikiran (lihat Billah MM ed all 1089; Ida, Laode 1995; juga kerangka acuan semiloko 1999).


 Mereka yang mengacu pada semangat awal berdirinya NU, boleh jadi menafsirkan semangat 1926 sebagai suatu gerakan pembelaan terhadap madzhab dan tradisi yang berbaur dengan sikap reaktif defensive dari kalangan elit islam tradisional. Contoh gerakannya antara lain dengan terbentuknya komite hijaz, termasuk reaksi-reaksi ulama kelompok ini terhadap berkembangnya faham Wahabi di Bumi Nusantara. Sementara kelompok yang memberikan penafsiran berdasarkan aktivitas NU setelah Indonesia merdeka lebih melihat bagaimana mengembangkan organisasi dan warga melalui berbagai cara yang sering kali tidak memiliki metode gerakan social yang sistematis.


Kendati demikian, upaya memberikan panduan dalam rangka menyeragamkan penafsiran terhadap makna khittah, sudah ditetapkan oleh jam’iyyah NU sendiri. Paling tidak, ada empat dimensi khittah, yaitu berkaitan dengan agama, social, ekonomi, dan politik. Semuanya itu dapat dilihat dalam keputusan  Munas Alim Ulama NU No/II/ MAUNU/1404/19983 tentang pemulihan khittah NU 1926 dapat dilihat dari misi berdirinya NU, sedangkan dimensi politiknya mengacu pada gerakan-gerakan NU dalam sejarah perjalanannya, seperti disaat menghadapi penjajah sampai pada kesepakatan organisatoris NU tentang Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dan konstitusi Negara.


Oleh sebab itu, NU harus mampu menggabungkan dimensi Pendidikan, kebangsaaan dan ekonomi kerakyatan. Pendidikan menjadi trobosan pertama, mengingat Pendidikan adalah iinvestasi masa depan. Dari pendidikanlah akan muncul kader-kader handal yang mampu berpartisipasi aktif di era pembangunan nasional di segala aspek kehidupan. Pendidikan model NU, khususnya pesantren harus melakukan reorientasi, seperti kurikulum, sarana prasarana, dan pengembangan wawasan. Orientasi hablum minallah (hubungan vertical) harus diimbangi dengan hablum minannas (hubungan horizontal). Moderasi dan integrase dua mainstream inilah yang menjadi tujuan Pendidikan nasional, dalam arti hasanah (berprestasi) di dunia dan hasanah d akhirat. Orientasi teosentrisme harus diimbangi dengan orientasi  antroposentrisme. Aspek ketuhanan harus harus bersinergi dengan aspek kemanusiaan. Problematika social kompleks. Relevansi doktrin agama sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mampu memberikan kontribusi bagi penyelesaian kasus-kasus social.


Aspek kebangsaan juga harus di revitalisir, mengingat nasionalisme dan patriotisme anak bangsa ini semakin luntur. Banyaknya korupsi, penyalah gunaan jabatan dan kekuasaan, dekadensi dan deglarasi moral dan ilmu terhadap penderitaan rakyat miskin adalah indicator rapuhnya semangat nasionalisme dan patriotism bangsa. Spirit kebangsaan yang luar biasa yang mampu melecutkan semangat berprestasi dan mengukir karya. Demi bangsa, semua dikorbankan.


No comments:

Post a Comment

Dilarang menaruh link aktif, berikan komentar dengan baik dan bijak agar saya tidak segan-segan mengunjungi situs anda, salam blogger INDONESIA

Post Bottom Ad

Hosting Unlimited Indonesia